Lesson Learned: Menginap di Dormitory Hostel


Cr: Space Hostel Tokyo, via Booking.com
Hai, guys! Pernah nggak sih, ngerasa bosan sama segalanya, bahkan sama hobi yang seringkali menjadi 'escape' dari kehidupan nyata. Eak! Gue selalu suka menulis, yang sebagian besar berisi curhat dan pikiran random. Tulisan di blog mungkin hanya 10% dari semua tulisan gue. Nah, belakangan ini, rasanya gue malas banget menulis. Palingan cuma nulis caption di post Instagram. Wk. Begitu banyak cerita perjalanan, people-watching dan konser yang mulai terlupakan detailnya hanya karena rasa malas dan bosan gue ini. Gue baru saja kembali dari perjalanan dua pekan di Malaysia dan Singapura. Banyak hal yang begitu berkesan, mungkin suatu hari akan gue tuliskan di blog ini. Mungkin juga tidak. We'll see. 
Hampir setiap traveling ke luar negeri, gue memilih menginap di hostel berbentuk asrama karena harganya yang jauh lebih murah daripada hotel. Misalnya di Kyoto, gue menginap di hostel seharga 350 ribu rupiah per malam. Bandingkan sama hotel, yang minimal satu juta rupiah per malam. Gue pikir, mendingan uangnya gue habiskan untuk jajan daripada untuk bayar penginapan mahal. Prioritas orang memang berbeda-beda. Berhubung gue anaknya agak manja dan gampang jijik sama hal-hal jorok, gue picky banget soal hostel yang akan gue inapi. Saat ada ulasan yang mengatakan toiletnya jorok, bhay, hostelnya gue blacklist. Andaikan lagi pengen bermanja ria atau lagi traveling sama keluarga, gue tentu milih hotel.
Berikut beberapa hal (lumayan) penting soal menginap di hostel berdasarkan pengalaman gue. 
1. Jangan terlalu banyak bawaan. Kamar sempit.
Biasanya, ukuran kamar sebuah hostel memang nggak terlalu besar. Satu kamar minimal ada 4 bunk bed, ada juga yang sampai 32 bunk bed. Saat menginap di hostel, nggak usah deh bawa koper seukuran kulkas dua pintu, apalagi sampai beranak pinak. Kita harus berbagi ruang penyimpanan dengan orang lain.

2. Jangan berisik. 

Ini mungkin salah satu aturan terpenting menginap di hostel. Jangan berisik, jangan ganggu istirahat orang! Biasanya sih hostel akan menetapkan jam-jam tertentu di mana tamu nggak boleh berisik. Waktu gue di Osaka, teman sekamar gue berantem sama orang kamar sebelah karena orang itu berbicara di telepon sambil ketawa-ketawa jam 4 pagi!

3. Jangan kelamaan di kamar mandi.

Jangan seperti di rumah, suka bawa ponsel sebagai hiburan "berurusan" di toilet, atau luluran dulu sebelum mandi. Kita harus bergerak cepat, pikirin orang lain yang mungkin perlu ke kamar mandi juga, berhubung jumlah kamar mandi pasti terbatas dan harus dipakai rame-rame.

4. Pilih hostel yang tempat tidurnya bertirai.

Ini sebenarnya pilihan pribadi sih, tapi saat mencari hostel untuk gue inapi, gue selalu mau yang kasurnya tertutup tirai. Ya nggak enak aja kali, saat tidur, kita nggak sadar posisi kita sejelek apa, dan nantinya bakal disaksikan banyak orang. Eak!

5. Curi kesempatan ganti baju di atas kasur.

Inilah salah satu alasan pentingnya kasur bertirai. Saat mau ganti baju sedangkan malas ke kamar mandi, kita bisa ganti baju di atas kasur. Jangan lupa matikan lampu di samping kasur masing-masing, agar tak terlihat siluet-siluet aneh dari luar tirai.

6. Pilih yang kamarnya pisah dari lawan jenis.

Bukannya seksis, tapi dengkuran cowok-cowok cenderung lebih bikin gue susah tidur. Gue juga sering risih lihat cowok asing yang suka bertelanjang dada atau cuek ganti baju sembarangan. Aku masih polos dan murni, kak! Namun jika di hostel itu nggak memisahkan cewek dan cowok, gue juga nggak keberatan kok.

7. Jika durasi perjalanan lebih dari seminggu, pilih hostel yang menyediakan mesin cuci.

Ini membantu banget! Setiap traveling, gue nggak membawa banyak pakaian karena gue emang nggak tertarik foto a la #OOTD. Jadinya menggunakan fasilitas mesin cuci di hostel jadi pilihan utama gue! Untuk pakaian dalam, sebaiknya cuci setiap saat kita mandi, jemur deh di bed masing-masing. Cari celah aja, bisa gantung kancut di mana. Wk.

8. Pilih hostel yang dekat dengan kendaraan umum.

Nggak perlu dijelaskan lagi deh, ya.

9. Keluarkan pakaian dari koper.

Untuk menginap di hostel, idealnya memang kita membawa backpack. Namun untuk yang  seperti gue, malas gendong tas berat, tentu lebih memilih membawa koper. Karena buka-tutup koper itu cukup berisik, biasanya saat baru tiba di hostel, gue keluarkan pakaian-pakaian yang akan gue pakai beberapa hari ke depan, gue masukkan ke dalam tas kecil yang lebih mudah untuk dibuka-tutup.

10. Lakukan hal (agak) berisik di jam sepi.

Saat mau berisik, misalnya saat mau packing, sebisa mungkin lakukan pas kamarnya sepi. Jangan terlalu pagi, jangan terlalu malam, bisa nggak mengganggu tamu lain.

Aku dan Tae yang masih berteman
11. A simple hello at the common room would change your traveling experience.

Berkenalan dengan orang baru di hostel justru seringkali menjadi highlight perjalanan gue. Kita bisa bertukar cerita pengalaman baru yang nggak pernah kita alami sendiri. Misalnya Trix dan Philip, kenalan gue di hostel di Bandung yang mengingatkan gue soal beruntungnya gue tinggal di Indonesia. Atau teman-teman yang gue kenal di hostel di Bangkok dengan cerita-ceritanya yang luar biasa. Di Kyoto, gue berkenalan dengan cowok Paraguay yang akhirnya menjadi teman sarapan gue setiap pagi. Ihiy! Gue juga masih rajin chatting sama Tae, cowok Thailand yang gue kenal di Bangkok, untuk sekadar bertukar kabar atau mengajarkan bahasa masing-masing.


Aku dan Philip, syuting Petualangan Sherina 2
12. Jangan bawa banyak barang berharga.

Ini basic dan penting! Ndak usahlah kau bawa buku cekmu, atau lima kilo kalung emasmu. Menginap di hostel memang aman, tapi nggak ada salahnya berjaga-jaga. Bukan hanya di hostel, tapi di mana pun itu. Karena gue harus selalu bawa laptop, setiap meninggalkan hostel, laptop selalu gue simpan di loker yang disediakan. Kalau di lokernya juga disediakan gembok, gue memilih untuk pakai gembok kecil yang gue bawa sendiri. Ya ngeri aja kan kalau ternyata kunci gemboknya sudah diduplikasi.

13. Bertemanlah dengan staf hostel.

Kemungkinan besar lo akan dapat banyak benefit, misalnya rekomendasi tempat-tempat bagus atau restoran enak yang nggak ada di buku panduan wisata, bahkan sebotol vodka gratis, hasil todongan kami kepada Tong (gue masih nggak tahu ejaan namanya), staf hostel di Bangkok, saat main Uno jam 4 pagi. Sayangnya gue nggak minum vodka, jadi sebotol coca-cola gratis pun udah bikin gue ceria.


14. Selalu bawa sendal jepit dan travel adaptor.

Meskipun di hostel biasanya sudah menyediakan sendal dan colokannya udah universal, tetap bawa milik sendiri, untuk berjaga-jaga!

15. Pilih hostel yang dekat dengan tempat makan dan minimarket.

Kita nggak tahu kapan mendadak butuh hal-hal kecil yang harus dibeli di minimarket. Di luar negeri pun sulit untuk nge-gofood (Malaysia dan Singapura sudah ada Grabfood!), jadi sebisa mungkin cari yang lokasinya di dekat tempat makan, in case kemalasan melanda.

16. Rajin baca ulasan online

Percayalah pada ulasan orang-orang yang pernah menginap di hostel tujuan kita. Walau ulasan jelek pasti nyelip, pastikan pilih hostel yang sebagian besar ulasannya bagus. Karena itulah saat mencari hostel, gue selalu mengurutkan dari yang review score-nya paling tinggi.

...apa lagi, ya?

No comments:

Theme images by latex. Powered by Blogger.