Arashiyama: Harus ke Okochi Sanso!


Terbangun dengan suhu badan agak panas dan kepala pusing di pagi hari, batal sudah rencana gue mau ke Hutan Bambu Arashiyama pagi-pagi buta. Amanohashidate, kucinta kau, tapi cuacamu membuatku demam. Huks. Untungnya saat lagi traveling, gue macam apotek berjalan, segala macam obat dibawa. Langsung deh pagi-pagi gue menenggak obat demam, padahal gejalanya masih ringan sih. Yah, jaga-jaga aja, gue takut nggak menikmati perjalanan hari itu. Rencananya juga, untuk perjalanan ke Arashiyama ini, gue mau nyewa sepeda di hostel karena jaraknya yang hanya sekitar 8 km, sekalian bisa mampir-mampir kalo ada tempat lucu. Namun gejala demam itu mengubah rencana. Gue naik kereta lagi ke Arashiyama (yang kemudian gue tahu bahwa di dekat hostel gue ada jalur bus langsung menuju Arashiyama!).

Tiba di Stasiun Saga-Arashiyama, perasaan gue udah nggak enak. Rame banget! Gue sempat berpikir, apakah gue balik kanan bubar aja? Ah, fuck it. Gue udah nyampe di sini, mubazir kalo harus pergi. Gue bahkan nggak perlu repot-repot melihat petunjuk jalan. Ikutin aja gelombang turis menuju tempat wisatanya.

Di ujung persimpangan jalan, banyak orang-orang yang belok kanan, menuju Bamboo Grove yang lagi terkenal banget itu. Karena malas menghadapi keramaian, gue belok ke kiri, ke Tenryuji. Halaman kuil ini indah banget karena dedaunan berwarna merah cantik. Sejauh hari keempat gue ini, momiji tercantik yang gue lihat adalah di Nanzenji dan di Arashiyama. Lumayan memperbaiki perasaanlah. Untuk masuk ke Tenryuji, pengunjung bisa memilih untuk beli karcis Garden (500 yen) atau Garden+Temple (800 yen). Gue memilih Garden+Temple, yang ternyata nggak worth it. Saat masuk temple, kita bisa berkeliling bagian dalam kuil, walau hanya di lorong luar (?). Ruangan-ruangannya nggak boleh dimasukin. Nah, lorong bagian luar itu bisa dilihat juga dari taman kok, makanya sebaiknya nggak usah deh beli tiket kuil. Dalam kuil itu juga rame banget, gue sibuk permisi-permisi doang.

Langka
Kolam utama
Dari sudut berbeda. Hoomans.
Gue kemudian ke bagian tamannya, yang ramenya kayak umroh, apalagi di area kolam utamanya. Gue melipir sedikit, mendaki ke atas bukit kecil di belakang kuil, yang cukup sepi. Di atas bukit ini, momijinya cakep banget kuingin menangis, apalagi kita bisa sambil lihat pemandangan luas, termasuk pemandangan jutaan manusia di bawah sana. Di atas sini juga ada beberapa bangku, jadi enak banget duduk-duduk melamun sambil menikmati pemandangan dari atas.


Jalur belakang Tenryuji ternyata nembus ke hutan bambu, yang Astagfirullah rame banget! Memang sih, kata orang, kalau mau menikmati hutan bambu ini, lebih baik datang pagi-pagi atau saat matahari sudah mau terbenam. Gue cukup bersyukur sama rute gue, Tenryuji dulu baru hutan bambu. Sebagian besar ke hutan bambu dulu baru Tenryuji, jadinya saat beli karcis Tenryuji, ngantrinya udah kayak antrean pom bensin di malam takbiran, sedangkan kalau dari pintu depan, loket Tenryuji nggak pake ngantri!

Bambu di Tenryuji
Berjalan menyusuri Bamboo Grove, gue sama sekali nggak menikmati karena terlalu ramai. Nggak ada tuh foto-foto cakep di hutan bambu macam di Instagram. Mungkin memang timing gue kurang tepat. Gue bahkan nggak kepikiran untuk foto-foto di sana, gue cuma ingin cepat keluar dari keramaian. Gue sempat berpikir, sudahlah, gue langsung pulang aja. Nah, di sebuah persimpangan, ada papan penjelasan, tapi nggak terlalu besar. Di situ ada taman bernama Okochi Sanso yang dibangun oleh aktor Okochi Denjiro yang terkenal tahun 1900-an. Karcis masuknya 1000 yen. Mahal memang, tapi gue tetap masuk, nggak mau kenangan gue tentang Arashiyama hanya dipenuhi oleh gerombolan manusia.

Jalur awal
Maaaaan gue nggak menyesal sedikit pun! Selain sepi, tempat ini indah banget! Parah! Ada penunjuk arah jelas, kita harus berjalan ke arah mana, supaya pengunjung nggak saling tabrakan, karena jalurnya memang jalanan setapak gitu. Gue sampai bingung mau nulisnya kayak gimana. Karena jalurnya mendaki, yang surprisingly nggak bikin capek karena fokus menikmati pemandangan, kita jadi bisa memandang Kyoto dari ketinggian, juga pegunungan di Kyoto. Katanya, di musim semi, pegunungan yang kita lihat itu akan tampak seperti melayang di awan karena efek bunga sakura. Di puncak, ada tempat untuk menikmati lembah perbukitan. Indah banget. Okochi Sanso ini salah satu tempat yang paling indah yang kue kunjungi di Jepang. Mungkin Top 3. Kata orang Bekasi sih, "breath-taking".

Kakek-nenek masih kuat
Btw, gue kagum sama kakek-nenek di Jepang. Walau udah bertongkat atau bungkuk, mereka masih sanggup lho mendaki! Saat keliling, gue barengan sama geng nenek-nenek yang masih kuat banget mendaki, nggak kelihatan lemah sama sekali. Karena gue bingung menggambarkan keindahan Okochi Sanso, ini deh gue pamerin fotonya aja:

Di area bangunan villa



Tempat meditasi




Lembah. Di bawahnya ada sungai.


Pemandangan Kyoto dari titik puncak


Ruang pameran karya aktor Okochi Denjiro
Di akhir jalur perjalanan, disediakan tempat piknik. Di sana, kita disajikan matcha hangat dan kue matcha, gratis. Jangan bayangkan matcha manis campur susu yang biasa kita minum, ya. Ini tuh minuman pahit gitu. Di sini, gue berasa bahagia banget, cuma duduk nyantai sambil minum sambil menikmati daun-daun musim gugur. Mungkin musim sakura malah lebih indah. Selama perjalanan ini, gue menyadari, titik terbahagia gue saat jalan-jalan adalah saat gue bisa duduk nyantai di tempat dengan pemandangan indah, sambil berpikir, pikiran apa pun itu. Mulai dari khayalan nggak jelas sampai pikiran "Nanti malam makan apa ya?"


Saat keluar dari Okochi Sanso, di sebuah persimpangan di pinggir danau, gue mendengar suara indah banget. Saat semakin dekat, ternyata ada pengamen yang memainkan alat musik bernama "handpan", yang baru banget buat gue. Bentuknya kayak wajan di dapur. Alatnya sederhana, tapi suaranya indah banget. Gue berasa lagi main drama, di pinggi danau yang indah ada suara yang indah juga. Gue memutuskan berdiri untuk nonton sampai selesai. Di sebelah gue ada anak kecil berusia sekitar 4 tahun yang juga serius nonton, kemudian dia teriak "Mama, kirei ne!" (Mama, indah ya!) Si pemain musik ini kemudian main musik sambil mengangguk dan tersenyum ke anak itu, seolah-olah bermain khusus untuk dia. Silakan cek Instagramnya, Rryusuque.




Untuk berjalan menuju stasiun, gue lagi-lagi harus tenggelam ke dalam lautan manusia. Namun tak apalah, gue sudah sempat merasakan indahnya Arashiyama.


Suka nggak tega :(


(Read my full story HERE)

No comments:

Theme images by latex. Powered by Blogger.