Osaka Castle Cakepnya Nggak Nyantai!

The Castle
Setelah berpindah ke Osaka, gue nggak punya itinerary khusus selain Ikuno Korea Town, Minoo Waterfall dan ke Wakayama, juga jajan takoyaki di Dotonbori. Di hari pertama tiba di Osaka, gue merasa bahwa Osaka bukanlah kota favorit gue. Terlalu ramai. Semua orang terlalu terburu-buru. Beda sama Kyoto yang rasanya lebih tenang. Di hari pertama gue di Osaka, gue malah merindukan Kyoto.

Gue kemudian minta saran lewat Instagram, gue harus jalan-jalan ke mana. Beberapa teman merekomendasikan Osaka Castle. Gue tahu Osaka Castle adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Osaka, tapi justru karena "wajib dikunjungi" itu, gue jadi gak antusias. "Pasti ramai," pikir gue. Gue memang gak begitu suka keramaian. Gue bahkan menghindari pergi ke mall di akhir pekan. "Tapi kok suka nonton konser? Konser kan juga ramai." Kata beberapa orang. Yes, gue mah bela-belain menghadapi keramaian konser demi melihat aksi idola. Namun setelah pulang ke rumah, rasanya energi gue terkuras habis.

Romantis!
Namun daripada waktu gue mubazir hanya bermalasan di hostel, gue langsung jalan kaki ke Osaka Castle yang hanya berjarak sekitar dua kilometer dari hostel tempat gue menginap. Ternyata tempatnya nggak seburuk yang gue bayangkan. Ini bahkan jadi tempat terfavorit gue di Osaka, cantik banget di musim gugur! Memang ramai sih, tapi gak menyesakkan itu. 


Di hari pertama gue ke sana, rasanya bahagia banget cuma duduk nyantai di depan air mancur sambil makan sandwich telur favorit (lagi) dan kopi kemasan yang kayaknya ngehits banget, tapi ternyata rasanya malah cuma kayak air putih yang ditaburkan khayalan akan kopi, lengkap dengan pertunjukan buruk gagak dan burung merpati yang berkejaran di udara. Hari itu cerah, jadi banyak warga sekitar yang jalan-jalan juga ke sini, menikmati hangatnya matahari yang mulai langka di akhir musim gugur. Baru di Jepang ini, gue berharap ketemu matahari setiap hari. Biasanya sebel, takut kepanasan. Wk.

Kopi yang nggak kayak kopi
Setelah puas bersantai dan melihat kegiatan warga sekitar, gue berjalan menuju kastilnya. Pemandangannya tampak magical, kastil bersejarah bersanding dengan gedung-gedung pencakar langit. 

Kastil tetanggaan sama gedung perkantoran
Di halaman kastil, naik ke atas sini deh!
Beberapa teman gue berkata bahwa gue harus siap-siap capek naik jutaan tangga menuju halaman kastil. Di pintu masuk kastil bagian depan, memang banyak tangga untuk menuju halaman kastil, bahkan ada pasangan yang pake baju pengantin menyusuri tangga itu untuk foto pre-wedding di halaman kastil! Maapkan si anak malas ini. Abort mission. Gue nggak jadi naik ke tangga itu, tapi gue tetap berjalan menyusuri bagian luar kastil sambil sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan dan daun-daun musim gugur.

Ada yang sambil melukis
Gue akhirnya masuk ke halaman kastil lewat pintu belakang yang ternyata jalurnya lebih mudah, nggak perlu naik banyak tangga. Yayy! Gue tawaf dulu, keliling sungai yang mengelilingi kastil, dilanjutkan dengan (lagi-lagi) duduk bersantai melihat kegiatan warga yang juga sedang bersantai. Gue nggak berniat masuk ke dalam kastilnya, jadi ya gue cukup senang dengan hanya duduk-duduk ditemani seekor burung gagak. Yes, ini pertama kalinya gue melihat burung gagak dari jarak dekat! 

Nontonin pemotretan pre-wedding orang
Bisa keliling naik perahu
Nggak banyak hal yang gue lakukan di Osaka Castle ini selain jalan keliling, duduk lagi, jalan lagi, duduk lagi, gitu aja terus sampe pulang. Walau hanya begitu, perasaan gue rasanya lega banget! Untuk rute kembali ke taman air mancur tadi, gue jalan kaki menyusuri jalur yang agak lebih terpencil, bahkan kayak hutan-hutan gitu. Jiwa gue bergelora. Parah cakepnya nggak nyantai! 

Cakepnya nggak nyantai! Both orang dan pemandangannya. Ehehehe
Besoknya, gue batal ke Minoo Waterfall karena harus ikut training online wajib dari perusahaan tempat gue bekerja freelance. Karena jarak Minoo Waterfall yang cukup jauh, nggak keburu kalau berangkatnya udah siang, gue batal ke sana dan mengalihkan tujuan ke Osaka Castle lagi. Gue masih ingin menyusuri hutan-hutan terpencilnya itu.

Anak ilang
Di hari kedua ini, sinar matahari langka, diganti dengan embusan angin yang cukup bikin tulang bergetar. Dingin! Kali ini gue sempatkan foto-foto romantis sendirian aja dan keliling sebentaran sambil jadi fotografer dadakan untuk keluarga-keluarga muda yang bawa anak kecil. Tiap ketemu keluarga muda yang foto-foto tapi nggak bisa foto lengkap atau sesama solo traveler yang sibuk selfie, gue selalu menawarkan diri untuk fotoin mereka. Gemas! Sepertinya gue merindukan interaksi manusia.

Ngeliatin apa mb?
Sore harinya, saat langit mulai gelap dan embusan angin semakin kencang, gue pergi mencari kehangatan di Dotonbori.


(Read my full story HERE)

No comments:

Theme images by latex. Powered by Blogger.