Si Anak Dorama ke Jepang!


Mari ucapkan Bismillah dan berdoa semoga niat ngeblog gue nggak mampet. Cerita perjalanan gue di Jepang akan gue bagi ke dalam beberapa bagian karena terlalu banyak detail yang nggak ingin gue lupakan.

"Kita ke Jepang yuk tahun depan!" Kata gue ke Rima, sembari menatap lukisan Jepang di Marugame SMB tahun lalu. Kemudian kami memutuskan akan ke Jepang di musim gugur 2018. Ternyata Rima berhalangan ikut, jadilah gue bertualang sendirian di Jepang.

Sengaja hanya berkeliling di wilayah Kansai biar puas dan gak mubazir waktu di perjalanan. Nggak perlu ke banyak tempat untuk merasa girang, dengar pengumuman dalam bahasa Jepang aja gue bahagia luar biasa. Kalau ditanya bahasa apa yang menurut gue paling indah, tentu Bahasa Jepang jawabannya. Sejak keranjingan dorama zaman SMA dahulu, gue selalu ingin ke Jepang. Macam orang norak, nempel foto-foto Jepang di meja kerja. Wallpaper ponsel juga foto Jepang, nyolong dari google. Saat berkhayal soal ke Jepang, alih-alih berucap "Kalau ke Jepang nanti..." gue selalu menggunakan "Saat di Jepang nanti..." Padahal isi rekening berkata "Duit dari mane tong?!" 


Hi Taiwan!
Setelah drama penerbangan yang dibatalkan sampai reschedule penerbangan yang menyebabkan keberangkatan gue mundur dua hari dan gue harus transit di Manila dan Taipei, gue akhirnya tiba siang hari di Jepang. Hal pertama yang gue lakukan adalah menukarkan voucher kartu transportasi di JR West Office bandara Kansai. Berikut kartu-kartu transportasi yang gue beli:

Berlaku 5 hari berturut-turut seharga 9.000 yen, kartu ini pas banget untuk tujuan gue ke daerah-daerah pinggiran wilayah Kansai. Daerah terjauh yang ingin gue kunjungi adalah Tottori, sekitar empat jam perjalanan dari Kyoto, dan Amanohashidate, sekitar tiga jam perjalanan dari Kyoto. Sayangnya karena hari perjalanan gue berkurang akibat reschedule penerbangan, gue harus mengeliminasi Tottori dan memilih Amanohashidate. Ini pertanda suatu hari nanti gue harus balik ke Kansai supaya bisa menjelajahi Tottori. Kartu ini juga bisa dipakai untuk naik kereta dari bandara ke pusat kota Kyoto atau Osaka.

Gue beli yang berlaku untuk 2 hari seharga 4.300 yen untuk gue pakai di dua hari terakhir di Jepang: Wakayama dan Bandara Kansai. Cakupan wilayah Kansai Area Pass ini lebih kecil daripada Kansai Wide Area Pass.

Ini kartu yang wajib banget. Fungsinya kayak e-money kalau di Indonesia yang bisa buat jajan di minimarket atau naik kereta dan bus. Dengan kartu ini, gue nggak perlu repot-repot beli kartu transportasi di mesin lagi setiap mau bepergian. Di wilayah Kansai namanya ICOCA, sedangkan di Tokyo, namanya Suica/Pasmo. Cuma beda nama, fungsinya sih sama kok.

Kartu-kartu kereta JR gue beli di HIS Travel, jadi di sana tinggal nukerin voucher ke tiket aslinya. Sengaja, supaya gue nggak perlu bawa uang tunai banyak-banyak. ICOCA gue beli langsung di mesin tiket di Bandara Kansai. Selama di Jepang, gue memang lebih banyak bertransaksi pake kartu kredit dan debit, juga ICOCA, sedangkan uang tunai hanya gue pakai saat jajan di toko-toko rumahan. (?) Untuk menentukan kartu transportasi apa yang harus dibeli, itinerary kita memang harus jelas, mau ke mana aja, jadi bisa nentuin, kartu transportasi apa yang paling murah cocok. Untuk internet, gue daftar paket roaming Telkomsel seharga 350 ribu rupiah dengan kuota 5GB yang untungnya cukup. Kalo perginya rame-rame, lebih baik sih sewa modem wifi aja biar bisa patungan. Biasanya seharga 60 ribu per hari.

Soal makanan, gue anaknya bukan foodie, jadi lidah gue sulit beradaptasi dengan makanan asing. Makanan simple kayak sushi atau miso soup aja gue nggak suka. Wk. Namun gue bisa bertahan hanya dengan makan sandwich minimarket hampir setiap hari. Sandwich telur ternyata enak banget woy! Ada juga saat gue seharian cuma makan pudding. Pudding di Jepang enak banget! Gue akhirnya paham kenapa karakter dorama suka heboh banget soal pudding. Minuman mudah didapatkan di vending machine. Kurang ramah lingkungan memang, karena harus selalu beli botol plastik sekali pakai. Sebenarnya gue bawa botol minum sendiri, tapi nggak berguna, karena kalau habis, akhirnya harus beli air minum kemasan lagi. Maafkan aku, Bumi. Yang aneh, air mineral ukuran 2 liter justru lebih murah daripada yang ukuran 550 ml lho!

Untuk lima hari pertama, gue menginap di Kyoto. Di hari pertama, gue salah naik kereta bandara. Gue malah naik kereta yang cuma sampai Osaka. Ibaratnya, mau ke Bogor, tapi gue malah naik kereta Depok. Untungnya petugas stasiun cukup membantu gue dengan nunjukin kereta mana yang harus gue naiki untuk lanjut ke Kyoto. Maklum, masih linglung. Walau kebanyakan warga Jepang nggak bisa Bahasa Inggris, biasanya petugas informasi di tempat umum itu bisa kok, jadi jangan cemas. 

Tiba di stasiun Kyoto saat matahari sudah terbenam, dengan muka kucel karena belum mandi seharian, gue memutuskan untuk langsung jalan-jalan, nggak ke hostel dulu. Syukurlah setiap stasiun di Jepang punya fasilitas loker, jadi gue menitipkan barang-barang gue dulu di loker.

Loker my luv. Ada yang pake koin, ada yang ICOCA.
Nah, untuk pake loker, gue nggak ngerti caranya. Sumpah gue norak banget! Saat lagi bingung, ada nenek-nenek yang nyamperin gue. Gue cuma bilang "Wakaranai" (Saya nggak tahu.) yang kemudian gue sadar, tata bahasa itu informal dan nggak sopan, maklum cuma belajar bahasa dari dorama. Nenek itu kemudian nunjukin gue caranya. Beliau tetap berbahasa Jepang. Walau gue nggak ngerti omongannya, gue akhirnya mengerti cara pakai loker. Saat itu gue sadar, perjalanan di Jepang untuk manusia norak kayak gue nggak akan begitu sulit dengan bantuan orang setempat.


Saat musim gugur, beberapa kuil di Kyoto selalu mengadakan "night illumination". Menurut google, salah satu yang terindah adalah di Eikando Temple, jadi ke sanalah gue pergi dengan bus. Sempat bingung harus naik bus apa, di depan Stasiun Kyoto ada papan pengumuman yang nunjukin daftar tempat wisata, bus apa yang rutenya ke sana, dan di peron mana kita harus nunggu. Cara naik bus di Jepang agak berbeda sama di Indonesia, tapi sama dengan sebagian besar negara lain. Kita naik dari pintu tengah. Setiap mendekati satu halte, speaker akan mengumumkan nama haltenya, dan kalau kita mau turun di halte yang disebutkan, tekan tombol yang tersebar di dalam bus. Turunnya dari pintu depan. Sebelum turun, masukin recehan di tempat pembayaran samping supir atau tempelkan ICOCA Card yang juga di samping supir. Yang paling gue suka, setiap bus berhenti dan akan bergerak lagi, supir selalu mengumumkan, jadi kita bisa siap-siap pasang bodi, nggak kayak kalo naik Metro Mini, penumpang macam diaduk-aduk di dalam bus.


Tiba di halte Eikando, gue agak bingung, kok tempat ini sepi banget? Apa gue salah tempat? Atau tempatnya lagi tutup? Kok gue malah lewat perumahan warga? Walau ragu, gue lanjut jalan aja menuju kuilnya, ngikutin Google Maps. Ternyata sepi itu hanya ilusi. Area kuilnya rame banget. I repeat. RAME BANGET! Namun ini saat pertama gue di Jepang, jadi gue tetap girang. Senang banget mendengar Bahasa Jepang di sekeliling gue! Indahnya daun-daun yang sudah memerah, dihias dengan lampu-lampu malam. Meskipun girang, gue juga mellow "Gue perlu nunggu dalam waktu lama untuk menikmati keindahan ini?! Gue akhirnya di Jepang, ini mimpi nggak sih?"


Setelah puas keliling kuil, gue kembali ke Stasiun Kyoto untuk segera ke hostel yang letaknya di Marutamachi, dekat Kyoto Imperial Palace. Jalur kereta di Kyoto mudah dipahami, jadi gue nggak pake drama nyasar-nyasar naik kereta. Lokasi hostel gue, Bird Hostel, pun sangat strategis, hanya beberapa tarikan napas dari Stasiun Subway Marutamachi, dengan McDonald's dan Sukiya, juga Family Mart di seberang hostel.

Waktu gue di Jepang masih panjang, yang rasanya seperti mimpi...

(Read my full story HERE)

No comments:

Theme images by latex. Powered by Blogger.