'Nara' Keliling Kota Nara

9:08 PM
Yoshikien
"Kak Nara, ya?" kata abang transportasi online setiap menjemput gue. Begitu juga dengan para barista. Atau petugas waiting list (?) restoran. Gue selalu ngaku-ngaku bernama Nara di ranah publik, dan teman-teman gue yang tadinya bingung, akhirnya mengerti. "Gue pengen ke Nara," jawab gue setiap ditanya.

Musim gugur 2018, gue beneran menginjakkan kaki di Nara.

Gue mulai naksir Nara sejak nonton film dokumenter tentang kota ini di channel NHK, dan kelihatannya indah banget, trus kayak di negeri dongeng karena rusa-rusa yang berkeliaran di Nara Park.

Nara jadi destinasi di hari kelima gue di Jepang karena tiket keretanya masih ditanggung sama JR West Wide Area Pass yang memang masa berlakunya lima hari. Tiba di Stasiun Nara, gue lebih banyak melihat turis internasional dibandingkan tempat-tempat lain yang gue kunjungi. Sepertinya Nara memang jadi tujuan favorit sejuta umat. Kutak sendiri. 

Untuk ke Nara Park dari stasiun, gue naik bus #2 tepat di depan Stasiun JR Nara. Bus ini juga melewati Stasiun Kintetsu Nara. Di bus ini, gue barengan sama banyak orang Indonesia! Tiba di Nara Park, gue baru menyadari kalo diri gue ini sotoy. Sok-sokan mau main sama rusa Nara, tapi begitu dideketin, gue takut! Wk. Saat gue lagi foto-fotoin seekor rusa dengan jarak dua meter, tiba-tiba ada anak Korea mendekati gue, melihat rusa yang sama. Dia pengen ngelus rusa itu, tapi takut. "Musowo!"  ("Takut!") kata dia sambil ragu-ragu mengulurkan tangan ke si rusa. "Gwenchana, anmusowo," ("Nggak apa-apa, nggak serem kok.") jawab gue, sambil lanjut foto-foto, tanpa berani nyentuh itu rusa. Sungguh sotoy kuadrat.

Ini pake zoom kok.
Todaiji
Kolam di depan Todaiji
Dari Nara Park, gue berjalan ke Todaiji yang memang terletak di satu area. Rame! Tapi untung areanya cukup besar, jadi nggak begitu menyesakkan. Gue nggak masuk ke kuilnya, karena antrean untuk masuk cukup panjang. Aku anaknya malas ngantri panjang qaq! Yaudah, gue keliling area kuil aja, karena tamannya cukup bagus dengan kolam sebagai pelengkap. Di samping kanan kuil, ada jalanan menuju tempat sepi, padahal areanya luas banget. Gue nggak tahu itu tempat apa, tapi yaudah, gue tetap ke sana aja. 


Isuien Garden

Taman Belakang
Terus berjalan, gue nembus di kompleks perumahan warga, dan di ujung perjalanan tanpa arah gue, ada tempat bernama Isuien yang tampaknya sepi. Gue sempat lihat foto-foto taman ini di Google dan naksir banget, tapi nggak berencana ke sana karena karcis masuknya yang mahal, 900 yen. Namun mumpung udah tiba di sana, gue memutuskan untuk masuk ke taman itu. 


Taman ini terbagi dua, taman depan dan taman belakang. Di dalam taman ini ada tea house, tapi mahal. Gue lupa harganya berapa. Wk. Tadinya gue pengen lunch di tempat ini aja sambil memandangi taman, dengan suguhan dan cara makan yang tradisional, lumayan buat menambah pengalaman. Namun gue sadar, sushi aja gue nggak suka, apalagi makanan tradisional begini. (Emang sushi nggak tradisional?!) Gue takut malah menyinggung sang koki dengan tidak memakan masakannya.

Silau tapi dingin
Isuien Garden ini nggak terlalu besar, tapi enak buat duduk-duduk nyantai karena suasananya yang tenang. Di bagian luar taman ada museum kecil yang karcis masuknya udah termasuk di karcis masuk taman. Museum ini memamerkan kerajinan tangan dan peralatan makan kuno yang berasal dari Tiongkok, Korea dan Jepang. Semuanya ada penjelasan Bahasa Inggris, jadi gue bisa cukup ngerti hubungan ketiga negeri di masa lalu. Seperti biasa, pengunjung dilarang memotret di dalam museum.

Taman Depan
Yoshikien Garden

Kiri: Isuien. Kanan: Yoshikien.

Pond Garden
Pemandangan dari pondok tinggi di Pond Garden
Tepat di samping Isuien, ada taman yang nggak kalah indahnya, Yoshikien. Area Yoshikien juga lebih besar dan terbagi ke dalam tiga bagian: pond garden, moss garden dan tea ceremony garden. Karcis taman ini gratis untuk turis internasional, kita tinggal menunjukkan paspor di loket, lalu petugas akan ngasih kita booklet yang berisi penjelasan tentang taman itu. Petugas juga semacam mencatat dari mana asal kita dan berapa jumlah warga negara yang datang di hari itu. Gue jadi orang Indonesia kedua yang berkunjung ke sana hari itu. Yay! Keduax gan!

Pond Garden dari sudut berbeda
Moss Garden
Ada kejadian kurang mengenakkan saat gue lagi bersantai di area Moss Garden Yoshikien. Di suasana yang tenang, datang segerombolan orang yang berisik. Ternyata orang Indonesia. Baru datang aja, suasana taman yang tenang langsung berasa kayak pasar. Perlu banget ya heboh teriak-teriak? Kemudian mereka  foto-foto sambil menginjak Moss (lumut daun) di situ. Foto rame-rame pake spanduk pula! Tolol banget! Yes, tolol, karena ada tiga lapis peringatan bahwa pengunjung harus tetap berjalan di jalur berbatu dan dilarang berjalan di atas lumut daun:

1. Di loket, petugasnya bilang "Please keep walking on the stones."
2. Di booklet, ada penjelasan bahwa lumut daun di taman itu dilindungi, makanya nggak boleh diinjak.
3. Ada rambu "Keep out."

Gerombolan orang Indonesia itu dengan asyiknya bergantian foto-foto, lengkap dengan kalimat "Ayo, kapan lagi?!" Okelah kalo pesertanya mungkin nggak ngerti, tapi tour leadernya masa nggak bisa ngasih tahu, malah semangat foto-fotoin mereka di atas lumut daun itu? Tokai! Kemudian ada tiga cewek Jepang berdiri di samping gue, memandang mereka sambil berseru kaget, seolah-olah berkata "Astaga!" Namun orang Jepang tuh typical yang nggak mau ikut campur, jadi mereka nggak negur orang-orang itu.

Ego u!
Mbak-mbak yang syok
Gue memang nggak kenal rombongan itu, tapi entah kenapa, ada rasa malu sebagai sesama orang Indonesia. Kemudian ada ibu-ibu yang berjalan di lumut rumput tepat di depan gue. Karena malunya udah memuncak dan gue bakal kepikiran kalo nggak negur, gue langsung kasih tau aja soal larangan menginjak lumut daun ini. Please guys, kalo jalan-jalan ke tempat asing, jangan cuma sibuk foto demi ngumpulin 'likes' di media sosial. Patuhi juga peraturan dan kebiasaan di tempat yang kita kunjungi. Dan jangan mengganggu kenyamanan orang lain, ya!

Area dekat Tea Ceremony Garden
Kalo ingin menghemat dana, gue sarankan pilih masuk ke Yoshikien aja yang gratisan, karena indahnya sama, areanya juga lebih luas. 

Nara National Museum dan Nara Shopping Area

Nara National Museum
Piknik di halaman National Museum
Waktu di bus menuju Nara Park tadi, gue melihat satu bangunan yang unik, jadi setelah dari Isuien dan Yoshikien, gue jalan kaki menuju bangunan tadi, yang ternyata bernama Nara National Museum. Sayangnya udah mendekati waktu tutup, jadi gue nggak masuk ke museum ini, jadi menikmati dari luar aja. Halaman museum ini luas banget, dan banyak burung gagak! Cuma duduk-duduk sebentar, gue memutuskan untuk pulang aja, jalan kaki ke stasiun.


Dalam perjalanan ke stasiun, gue melewati satu area perbelanjaan Nara, kayak pasar gitu, jadi gue sekalian mampir aja buat late lunch. Niichan pelayan restoran katsu tempat gue makan cakep banget macam bintang dorama! Kyaaa notice me niichan! Gue lupa apa nama restorannya. Ternyata di area ini ada beberapa restoran halal lho!

Pasar (?) Nara
Nonton orang siaran, siapa tahu mendadak ada artis.
Karena dekat dengan Uji, matcha juga jadi keunggulan Nara. Banyak banget jajanan matcha, tapi untungnya gue udah kalap jajan matcha di Uji, jadi iman gue nggak tergoda di Nara. Di tempat ini juga, gue sempat menyaksikan aksi unjuk rasa, yang entah tentang apa, tapi rapi. Kagak ada tuh yang nyampah sembarangan kayak...

Ah sudahlah.


So far, Nara jadi salah satu tempat favorit gue. Seperti Arashiyama, Nara memang jadi salah satu tujuan wisata wajib di wilayah Kansai, jadinya manusianya tumpe tumpe. Namun kalo nemu sudut yang menyenangkan, tempat ini terasa banget tenang dan indahnya! Nggak sia-sia gue pake 'Nara' sebagai nama samaran. (Emangnya kenapa?!)
I love Nara!
Kini, kalo ditanya, "Kok lo pake nama Nara?" Jawaban gue sudah bukan "Karena gue pengen ke Nara," tapi "Karena gue cinta Kota Nara."

Stasiun JR Nara di waktu senja

(Read my full story HERE)

No comments:

Theme images by latex. Powered by Blogger.